Kisah ini menceritakan tentang peperangan antara Prabu Heryanarudra dan Prabu Kandihawa, dilanjutkan dengan cerita kehidupan Raden Respati putra Prabu Kandihawa, yang kemudian menjadi raja bergelar Prabu Palindriya di Kerajaan Medang Kamulan. Kisah diakhiri dengan kelahiran putra Prabu Palindriya bernama Jaka Wudug, yang kelak terkenal dengan sebutan Prabu Watugunung.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita.

PRABU HERYANARUDRA MENYERANG PRABU KANDIHAWA

Prabu Kandihawa di Kerajaan Purwacarita dihadap Patih Mandasrawa dan para menteri. Saat itu mereka sedang membicarakan soal permusuhan dengan Prabu Heryanarudra di Kerajaan Gilingaya yang sudah terjadi bertahun-tahun. Prabu Kandihawa prihatin karena permusuhan tersebut telah merambat sampai ke rakyat jelata di pedesaan, di mana antara penduduk Purwacarita dan Gilingaya sering terjadi pertengkaran dan perkelahian apabila mereka berjumpa.

Tidak lama kemudian datanglah utusan Kerajaan Gilingaya, yaitu Patih Anindyamantri yang menyampaikan surat dari rajanya. Surat itu berisi perintah Prabu Heryanarudra kepada Prabu Kandihawa supaya datang menghadap untuk meminta maaf. Jika tidak, maka pasukan Gilingaya akan segera menghancurkan Kerajaan Purwacarita.

Prabu Kandihawa sangat marah dan mengatakan kepada Patih Anindyamantri bahwa pihak Purwacarita siap menghadapi tantangan tersebut. Patih Anindyamantri pun mohon pamit untuk pergi melapor kepada rajanya.

PRABU KANDIHAWA GUGUR DALAM PERTEMPURAN

Patih Anindyamantri melapor kepada Prabu Heryanarudra yang sudah bersiaga di perkemahan. Mendengar sang keponakan tidak mau meminta maaf, Prabu Heryanarudra segera memerintahkan pasukan Gilingaya bergerak menyerbu istana Purwacarita saat itu juga.

Pertempuran besar pun terjadi. Pasukan Gilingaya sudah mempersiapkan penyerangan ini dengan sedemikian rupa, sehingga pihak Purwacarita akhirnya mengalami kekalahan habis-habisan. Banyak prajurit Purwacarita yang tewas, bahkan Patih Mandasrawa akhirnya gugur pula di tangan Patih Anindyamantri, sedangkan Prabu Kandihawa gugur di tangan Prabu Heryanarudra.

Dewi Sriganarti (istri Prabu Kandihawa) membawa sang putra yang masih kecil bernama Raden Respati melarikan diri ke arah timur saat kehancuran itu terjadi. Mereka akhirnya ditolong seorang pendeta di Padepokan Pantireja, bernama Resi Sucandra. Namun, Dewi Sriganarti jatuh sakit karena sangat berduka atas kematian sang suami dan ia pun meninggal dunia.

Resi Sucandra kemudian mengasuh Raden Respati dan menjadikannya sebagai murid di Padepokan Pantireja tersebut.

RADEN RESPATI MENJADI RESI WREHASPATI

Setelah dewasa, Raden Respati dinikahkan dengan putri Resi Sucandra yang bernama Dewi Soma. Dari perkawinan itu secara berturut-turut lahir tiga orang putra, yang diberi nama Raden Anggara, Raden Buda, dan Raden Sukra. Pada suatu hari Resi Sucandra memerintahkan Raden Respati pergi bertapa di Gunung Aswata untuk mendapatkan tambahan ilmu kesaktian. Raden Respati pun berpamitan kepada istri dan ketiga anaknya, kemudian berangkat seorang diri.

Sesampainya di Gunung Aswata, Raden Respati bertapa tekun siang dan malam sesuai petunjuk sang mertua. Pada suatu hari datanglah Batara Wrehaspati yang turun dari Kahyangan Suralaya untuk menyampaikan anugerah dari Batara Indra kepadanya. Rupanya Batara Indra merasa senang terhadap tapa brata tersebut dan berkenan memberikan anugerah berupa pusaka busur Bajra dan panah Herawana supaya menjadi senjata andalan Raden Respati.

Batara Wrehaspati lalu memberikan anugerah kedua, yaitu mengajarkan tambahan ilmu kesaktian kepada Raden Respati. Setelah tuntas memberikan segala pelajaran, Batara Wrehaspati pun memerintahkan Raden Respati menjadi seorang resi dan mengizinkannya memakai gelar Resi Wrehaspati yang sama seperti namanya. Raden Respati berterima kasih atas segala anugerah yang diterimanya itu, dan ia pun mengganti namanya menjadi Resi Wrehaspati sesuai perintah tersebut. Setelah dirasa cukup, Batara Wrehaspati kemudian pamit kembali ke Kahyangan Suralaya, melapor kepada Batara Indra.

RESI WREHASPATI BERSELINGKUH DENGAN BATARI BASUNDARI

Tersebutlah seorang bidadari bernama Batari Basundari, putri Batara Anantaboga dari Kahyangan Saptapratala. Pada suatu hari datang seekor raja naga bernama Naga Sindula yang melamar dirinya untuk dijadikan istri. Batara Anantaboga menerima lamaran itu, namun Batari Basundari tidak bersedia menikah dengan Naga Sindula. Karena sang ayah terus memaksa, Batari Basundari pun memilih kabur meninggalkan kahyangan dengan ditemani dua ekor hewan peliharaannya. Kedua hewan tersebut yang satu berwujud kambing, bernama Mendapatra; dan yang satunya berwujud angsa, bernama Banyakpatra.

Demikianlah, Batari Basundari pun berkelana terlunta-lunta tak tentu arah. Jika menyeberangi sungai, ia diangkut Banyakpatra, dan jika melewati jalanan terjal ia diangkut Mendapatra. Ketika perjalanannya mencapai kaki Gunung Aswata, Batari Basundari merasa letih dan sangat lapar. Meskipun di sana banyak terdapat buah-buahan, namun entah mengapa ia ingin sekali makan daging kambing dan angsa. Mendapatra dan Banyakpatra seolah-olah dapat membaca pikiran sang majikan tersebut. Mereka pun merelakan diri disembelih dan dimasak untuk dimakan Batari Basundari.

Pada saat itu Resi Wrehaspati yang bertapa di puncak Gunung Aswata mencium bau masakan kambing dan angsa yang sangat sedap. Ia lalu terbangun dan berjalan menuju ke arah datangnya bau sehingga bertemu dengan Batari Basundari. Mereka pun berkenalan dan saling jatuh cinta. Setelah makan bersama, Resi Wrehaspati merayu Batari Basundari dan mengajaknya bermesraan. Batari Basundari pura-pura menolak dengan sikap manja, membuat Resi Wrehaspati semakin bernafsu kepadanya. Kedua orang itu pun sama-sama terlena dan akhirnya berzinah di Gunung Aswata tersebut.

DEWI SOMA MENGUTUK BATARI BASUNDARI

Sementara itu, Resi Sucandra di Padepokan Pantireja meninggal dunia. Dewi Soma mengirim Raden Anggara dan Raden Buda untuk memberi tahu ayah mereka di Gunung Aswata, sedangkan Raden Sukra tetap tinggal untuk mengurusi pemakaman sang kakek.

Kedua remaja itu pun berangkat melaksanakan perintah, namun kemudian pulang kembali ke Pantireja tanpa disertai sang ayah. Mereka menceritakan bahwa sang ayah sekarang di Gunung Aswata telah menjadi pendeta bergelar Resi Wrehaspati dan meminta maaf belum bisa pulang ke Padepokan Pantireja karena masih menunggu izin dewata. Mereka juga melaporkan adanya seorang wanita cantik yang melayani segala keperluan sang ayah di pertapaan.

Dewi Soma sangat marah mendengar laporan tersebut. Ia pun pergi ke Gunung Aswata untuk melabrak Resi Wrehaspati dan selingkuhannya. Resi Wrehaspati merasa serbasalah ketika istrinya itu tiba-tiba datang mencaci maki. Dewi Soma lalu mengutuk kelak Batari Basundari akan menerima karma sama seperti yang kini dirasakannya, yaitu diduakan oleh suami. Bahkan, Batari Basundari juga dikutuk akan mengalami “sungsang bawana balik” yang luar biasa memalukan.

Setelah mengucapkan kutukan tersebut, Dewi Soma pun kembali ke Pantireja dengan perasaan sedih tak terlukiskan.

RESI WREHASPATI MENDAPAT RESTU BATARA ANANTABOGA

Pada suatu hari Resi Wrehaspati dan Batari Basundari melihat ada dua ekor naga sedang bertarung di angkasa. Batari Basundari mengenali yang sedang bertarung itu tidak lain adalah ayahnya sendiri, yaitu Batara Anantaboga melawan Naga Sindula. Kepada Resi Wrehaspati ia bercerita bahwa Naga Sindula itulah yang dulu melamar dirinya sebagai istri, namun ia menolak dan memilih kabur meninggalkan Kahyangan Saptapratala.

Batari Basundari lalu meminta Resi Wrehaspati supaya membantu ayahnya membunuh Naga Sindula. Resi Wrehaspati pun melepaskan panah Herawana ke angkasa dan secara tepat mengenai Naga Sindula hingga tewas seketika. Batara Anantaboga segera turun ke tanah dan mengubah wujudnya menjadi manusia untuk kemudian berterima kasih kepada Resi Wrehaspati. Ia juga sangat gembira bertemu Batari Basundari dan meminta maaf karena dulu telah memaksa putrinya itu menikah dengan Naga Sindula.

Batari Basundari juga memohon maaf karena dulu telah pergi tanpa pamit meninggalkan Kahyangan Saptapratala untuk menghindari lamaran Naga Sindula tersebut. Ia lalu bertanya mengapa sang ayah berkelahi dengan Naga Sindula tadi. Batara Anantaboga pun bercerita bahwa Naga Sindula ternyata menyimpan maksud jahat ingin menguasai Kahyangan Saptapratala. Adapun tujuan Naga Sindula melamar Batari Basundari sebagai istri tidak lain adalah demi untuk mewujudkan cita-citanya tersebut.

Batari Basundari sangat bahagia karena semua masalah kini telah menjadi jelas. Ia pun memperkenalkan Resi Wrehaspati kepada Batara Anantaboga. Ternyata Batara Anantaboga sangat menyukai Resi Wrehaspati dan merestuinya sebagai menantu.

RESI WREHASPATI MENDIRIKAN KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Batara Anantaboga lalu memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada Resi Wrehaspati. Setelah pelajaran selesai, ia pun memerintahkan menantunya itu untuk membuka sebuah permukiman di Hutan Pagelen. Resi Wrehaspati mematuhi perintah tersebut dan memohon restu, kemudian berangkat dengan ditemani Batari Basundari. Mereka pun membuka Hutan Pagelen menjadi sebuah perkampungan.

Dalam waktu yang tidak lama, permukiman itu telah ramai dipadati penduduk. Pada dasarnya Resi Wrehaspati adalah cucu Sri Maharaja Kanwa sehingga dalam dirinya mengalir darah bangsawan. Setelah mengambil keputusan, ia pun mengubah Desa Pagelen menjadi sebuah kerajaan bernama Medang Gele, dan menobatkan dirinya sebagai raja berjuluk Prabu Palindriya.

Pada suatu hari Batara Anantaboga datang berkunjung ke Kerajaan Medang Gele dengan ditemani putrinya yang lain, bernama Batari Basuwati. Batara Anantaboga sangat senang melihat perkembangan negeri yang dipimpin menantunya itu, dan menyarankan supaya namanya diganti menjadi Medang Kamulan, yaitu meniru nama kerajaan yang pertama kali berdiri di Pulau Jawa. Prabu Palindriya mematuhi perintah tersebut. Maka, sejak saat itu Kerajaan Medang Gele pun berganti nama menjadi Kerajaan Medang Kamulan.

PRABU PALINDRIYA MENIKAH LAGI DAN MENGAMBIL BANYAK SELIR

Batari Basundari yang sangat rindu kepada Batari Basuwati telah meminta adiknya itu untuk tetap tinggal sementara waktu di Kerajaan Medang Kamulan. Batara Anantaboga memberikan izin, dan ia pun pulang sendiri ke Kahyangan Saptapratala.

Akan tetapi, terjadilah cinta segitiga di istana Medang Kamulan karena Prabu Palindriya dan Batari Basuwati ternyata saling menyukai. Batari Basundari yang saat itu sedang hamil terpaksa mengizinkan sang suami memperistri adiknya itu. Prabu Palindriya sangat senang dan ia pun menikahi Batari Basuwati sebagai permaisuri kedua. Untuk menyamarkan bahwa kedua istrinya adalah bidadari, Prabu Palindriya pun mengganti nama mereka berdua, yaitu Batari Basundari menjadi Dewi Sinta, dan Batari Basuwati menjadi Dewi Landep.

Namun demikian, perasaan cemburu Dewi Sinta semakin berkobar karena sang suami ternyata suka bermain wanita. Meskipun memiliki dua orang permaisuri bidadari ternyata Prabu Palindriya masih merasa kurang juga. Terhitung ia telah mengambil dua puluh enam perempuan sebagai selir untuk melampiaskan nafsu birahinya.

LAHIRNYA JAKA WUDUG

Dewi Sinta yang sudah tidak tahan lagi terhadap tingkah laku suaminya, akhirnya memutuskan untuk kabur meninggalkan Kerajaan Medang Kamulan meskipun dalam keadaan hamil tua. Ia pun memilih tinggal di Desa Cangkring untuk menenangkan perasaan. Tidak lama kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahimnya yang diberi nama Jaka Wudug.

Dewi Sinta merasa kutukan pertama Dewi Soma telah menjadi kenyataan. Kini ia harus rela menjalani hidup sebagai warga desa yang jauh dari kemewahan dan harus merawat putranya seorang diri. Karena kemarahannya kepada sang suami begitu besar, ia pun memutuskan untuk kembali memakai nama pemberian orang tuanya, yaitu Dewi Basundari.

http://albumkisahwayang.blogspot.com

Sejarah Bathara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *